CERITA DARI MUMAS (BAG I)
oleh Dea Rokhmatun Iradewa
Kenapa Saya menulis Kejadian Mumas II
Banyak yang salah paham dan saling curiga setelah terjadinya mumas Memakom pada bulan Maret lalu. Samapai saat ini, saya merasa kalau kejadian itu sedikitnya telah merubah iklim di Kemakom. Untuk itu, kenapa saya berinisiatif mempublikasikan kejadian itu dalam bentuk tulisan yang didasari oleh apa yang dilakukan dan tentunya tantangĀ pandangan saya dan beberapa teman sebagai pelaku dan orang yang merasakan kejadian tersebut. Saya ingin agar kejadian tersebut diketahui oleh generasi setelah saya, saya ingin mereka menilai dan menjadikan hal ini sebagai pelajaran yan berharga, saya ingin agar dimasa mereka kelak organisasi ini (KEMAKOM) bisa jauh lebih baik dibanding pada masa ini. Baik atau buruk, sejarah tidak sepatut nya disembunyikan, sejarah adalah hal yang palin berharga yang akan memberikan pelajaran yang tak terhingga nilainya.
Jelang MUMAS, Komunikasi antar Kelas
Tiga minggu menjelang MUMAS II, beberapa orang pengurus DPO saat itu, Saya, Fajar, Lovi dan Dinda saling berkomunikasi dan membahas MUMas yang akan segera dilaksanakan. Komunikasi non-formal itu pada awalnya depelopori oleh M. Fajar Kuntoro (Pendidikan Ilkom B) yang saat itu menjabat sebagai Ka. Biro Advokasi. Saat itu kami menyadari kalau ada wacana seseorang dari 2006 akan mencalonkan diri sebagai calon presiden dan dari desas desus yang kami dapat memang dia memiliki keinginan kuat untuk maju. Untuk itu, saat itu kami cukup intensif membahas apa tindakan yang harus diambil seanjutnya.
Dalam salah satu pesan singkat nya kepada saya, Fajar sempat mempertanyakan dukungan prodi ILKOM 2007. Saat itu memang untuk ilkokm 2007 sediri belum memiliki calon pasti yang akan diusulkan untuk maju sebagai calon presiden maupun wapres, meski sempat beredar beberapa nama seperti Deni, Irvan dan lainnya.
Namun memang keadaannya pada saat itu bisa dibilang kalau antara ilkm da pend. ilkom tidak terlalu kompak. Kami menyadari hal itu dan memang tidak ada atau mungkin belum ada seorang figur yang mampu mempersatukan kami pada saat itu. Begitu juga antara kelas A dan B, beberapa teman dekat saya mengakui kalau memang antara meraka masih terdapat kelompok-kelompok dan sulit untuk kompak, entah kenapa.
Dua minggu menjelas mumas, sebuah statement baru muncul, pada saat itu ilkom 2007 menolak nama Dinda untuk menjadi presiden apapun alasannya dan akan mengajukan nama baru jika dinda diusung. Saya sempat mendorong Fajar untuk maju sebagai capres, dan setelah beberapa kali desakan dia akhirnya mau namun tidak ada calon presiden yang akan dipasankan dengannya. Begitu pula dengan Lovi, dia menolak untuk maju sebagai capres namun masih menerima jika dicalonkan sebagai wapres. Namun masalahnya, apabila fajar dipasangkan dengan Lovi yang dua-duanya kelas A, pendidikan Ilkom, jelas kelas C1 dan c2 ilkom serta kelas B pend. ilkom akan menolak dan itu akan menambah buruk keadaan intern 2007 saat itu.
MUSYAWARAH ANGKATAN 2007
saat itu kami menilai, tidak ada cara lain lebih baik dibanding mengumpulkan seluruh angkatan 2007 dan membahas masalah ini bersama. Akhirnya kelas A, B, C1, dan C2 melakukan musyawarah di kelasnya masing-masing da n kemudian hasilnya akan dibahas keballi pada musyawarah Angkatan 2007. saya menilai, inilah cara yang benar dalam mengambil keputusan yang akan disampaikan di mumas. dan daya yakin, baru 2007 yang melakukannya, dan inilah wujud dari aspirasi warga yang sebenarnya. berbeda dengan kebiiasaan pada waktu itu bahkan pada mumas sebelumnya dimana keputusan angkatan baru ditentukan saat mumas berlangsung tanpa diketahui mahasiswa lain. entah apa itu namanya.
Musyawarah 2007 pun berlangsung, pada saat itu semua perwakilan kelas datang, ada sekitar 40 lebih mahasiswa 2007 yang datang. Setiap kelas menyampaikan calon yang diusung oleh kelasnya masing-masing dan saat itu, beberapa nama yang muncul adalah : Fajar Kuntoro – Lovi Triono (kelas A), Dinda Agus – Dea Rokhmatun (Kelas B), Dea Rokhmatun – Fajar (C1), Arfi Fauzi – Dea Rokhmatun (C2).
Setelah lama membahas masalah tersebut, akhir nya Saya dan Fajar menjadi calon yang akan diusung dan diusung 2007. Namun posisi kami belum pasti sampai saat itu, siapa yang menjadi presiden dan siapa yang menjadi wakil belum ditentukan. Saya, Fajar, dinda, Mira, Lovi, Irvan, Arfi diberi kepercayaan untuk menentukan posisi calon presiden dan wapres. Hasilnya Saya sebagai calon presiden dan Fajar sebagai calon wakil presiden. Beberapa orang kelas A pada pertemuan selanjutnya menolak dan ingin menukar posisi. Saya menyetujui namun dari kelas B dan C1 sendiri berusaha mempertahankan komposisi semula. Pertemuan ke tiga, akhirnya kami sepakat komposisinya tetap dan tidak berubah. 2007 saat itu menyatakan hanya akan mendukung calon yang diputuskan saat itu, dalam artian calon yang akan diusung atas nama angkatan 2007 adalah pasangan berdasarkan musyawarah angkatan tersbut, jika ada calon lain yang maju, itu bukan atas nama 2007, meski tetap memberikan kesempakan kepada masing-masing individu untuk tetap maju, namun tidak akan didukung atas nama angkatan.
SYURO ITC
Kondisi saat itu memang cukup panas, kami mendapati bahwa ex-BEM sebelumnya yang dimotori 2006 dan 2005 juga telah mengadakan pertemuan di Mesjid Al-Furqan UPI untuk membicarakan calon presiden dan wapres. Tapi anehnya, entah apa yang terjadi orang-orang yang ikut pertemuan tersebut tidak mau mengaku saat dikomfirmasi. Seakan ada yan ditutupi dan dirahasiakan, jelas membuat kami cukup gerah, apa yan terjadi dan mereka rencanakan. Kenapa harus dilakukan secara rahasia, sedang seharusnya, apa yang akan dibicarakan di mumas, apalagi pencalonan pemimpin BEM kedepan harus merupakan aspirasi seluruh warga, bukan segelintir orang yang secara sembunyi-sembunyi mengadakan pertemuan yang saat itu kami namai Syuro ITC. Hal yang didapat dati informan kami, Syuro tersebut berencana mengusung Dinda sebagai caPres dan muncul beberapa nama seperti ficky yan akan dipangkan dengannya.
Sempat kami dari perwakilan 2007 saat itu bertemu dengan orang-orang yang ikut dalam Syuro tersebut, niat kami baik untuk saling bertukar pendapat, klarifikasi masalah dan merencanakan yang terbaik untuk himpunan selanjutnya. Apa yang kami dapat, dia malah seakan tersinggung, sewot, marah dan merasa dipojokan. “apa ini??” , pikir saya dalam hati. Jelas, tidak bisa dengan cara baik-baik. Sebelumnya perlu saya sampaikan terlebih dahulu, hanya satu orang yan bersikap seperti itu, sisanya cukup kooperatif. Kami saat itu menempatkan diri sebagai adik kelas yang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Hanya berpura-pura tidak tahu tentang syuro, tentang organisasi dan sebagainya, karena memang percuma melayani orang seperti itu.



Hmm..ribet juga ya? yg namany kehidupan pasti dikarenakan adanya perbedaan..perbedaan yang memberikan warna-warni keindahan dalam mejalaninya, seperti pelangi yang menawan menunggu mega..
oke deh..ane blum tau juga kelanjutanya, semoga lebih baik untuk semua..sblunya minta maaf, tapi q da sdikit tanggapan ni..
boleh ya?
-sambut baik rasa tidak setuju. ingat loh slogan “apabila dua mitra selalu setuju, salah satu diantara mereka tidak perlu. “kalau ada beberapa hal yang belum anda fikirkan, bersyukurlah kalau itu diberitahu pada anda. mungkin ketidaksetujuan ini merupakan kesempatan anda untuk dikoreksi. sebelum anda melakukan kesalahan yang lebih serius.
dan yang harus dipegang teguh..
“satu-satunya cara memperoleh manfaat sepenuhnya dari perdebatan adalah menghindarinya”
okew..
maaf kalau berkunjung di webku belum bener,he..masih belajar,
ngarang manehh,, kpan uing pnahh mau jadi presidenn,, yang ada juga ente gak mau maju klo gak sama uing,, ente fitnahh,,
uing jga maunya demi kalian,, maunya dea yg jadi presiden,, dea maunya sama saia,, gantiiiiiiiiii!!!!!