15 May 2009 ~ 0 Comments

Rasa yang Bisu

oleh Dea Rokhmatun Iradewa

Saat itu memang aku yakini tak akan pernah kulupakan dalam sisa umurku , saat dimana kurasakan sesuatu yang membutakan mata dan menutup hati dengan pancaran aura ajaib. Sesuatu yang mematahkan aku saat menatap wajah anggun dan mata yang mepuh dengan misteri dalam tirai bijaksana. Semakin terasa ketika jemari lentiknya menyerap segala energi dalam jiwa. Dialah dara yang membawaku ke taman khayalan dalam kesendirian dan menculikku ke atas dunia semu di mana terasa anugerah terindah yang membara dalam jiwa

Dia memang bukan yang pertama tapi utama yang kurasa. Dara yang telah menyeretku ke dalam perasaan kikuk dan membelenggu tanpa daya dalam tirai pesona dalam tirani asmara.. Teringat aku pada pada tulisan Gibran, “Setiap orang muda pasti akan teringat cinta pertamanya…”, dan itulah yang saat ini benar-benar aku rasakan. Lusadari dia amat memberatkan hati dan mengguncang jiwa. Pesona dan kharismanya adalah kekasihku yang dulu yang kini kembali hidup. Jujur kutakutkan jika persaan ku tertuju pada bidadri masa suramku yang terlah pergi menghilang dalam teriakan malam. Tapi terus kutekankan pada jiwa sunyiku bawasanya asmaraku adalah dia yang sekarang, bukan bidadariku yang dulu. Kuyakinka kalau prasangka ini hanyalah ketidaksengajaan yang menginspirasi ketika terngiang sejarah pahit yang nyata sudah tertelan abu jalanan.

Dia tealah mengubah gelapku hingga kembali kilau permata dan melukiskan indahnya cerita asmara dalam kesunyianku dengan tinta kharisma yang mengubah melodi hidupku dalam simphony cinta.

Aku kini terjerat dalam lingkaran musim semi yang haru dan gembira. Kemudian aku terdesak dalam lamunan dan terasa beratnya logika tuk selalu memaami pesonamu yang hakiki. Senyum kecilmu terukir di dasar pesona dan terikat diantara fenomena hidup yang dulu lusuh dan ta berbentuk.

Kau adalah rupawan dari dasar khayalan yang tak pernah hilang diantara semak semak tertindas dan daun daun yang luluh. Hingga suatu saat kupahami dengan pasti perihnya kenyataan hidup. Saat kuteriakan kegelisaan karena tak mungkin memilikimu dan tak lagi bisa merasakan derai pesona jiwamu yang tela mengajakku berkelana jauh ke dasar mimpi terindah.

Beku aku saat kudapati seorang karib yang selalu bersama menikmati secangkir teh diantara padang ilalang diantara pegunungan cita, kini tengah memandangmu dengan perasaan penuh.

Bagai tertusuk pana beracun yang dilumuri darah dan air mata yang kemudia terpendam di sudut jiwa. Tak mampu aku tuk menjauh darinya namun tak mungkin aku memakan daging sahabat sendiri yang pernah bersenda gurau dalam lamunan dan realita.

Keheningan yang diserta dilema itu adalah awal dari segala kemenangan dan petaka. Setiap kali teringat al itu, maka kuselami jauh ke dalam renungan dan kutuangkan dalam realita nyata antara rasa yang bisu

Related posts :

  1. Pesan dari Kahlil Gibran
  2. Gempa Bumi melanda Bandung, Jakarta dan Yogyakarta


Leave a Reply

Selamat Datang Pengguna Twitter. Mohon Untuk Menshare Post di Twitter Anda