Mawar hitam Masa Laluku
Masih jelas dalam segala pikiranku saat berada dalam bangunan kuno masa lalu yang betapa berarti bagi masa depanku. Semua aroma tentang dirinya begitu menyengat tercium oleh indra dan merangsang seluruh syaraf tak sadarku. Saat saat begitu hitam yang dulu tak pernah kusadari itu memang tak akan pernah mungkin bisa kuhilangkan dari benakku dalam waktu yang tak terbatas.
Hari-hari bersamanya memang begitu indah, penuh dengan aroma-aroma asmara remaja yang mendesak menekan logika. Dua setengah tahun bukannlah waktu yang singkat sehingga tak mungkin dienyahkan dalam sekejap mata. cerita-cerita kemesraan berbaur penghianatan menghiasi hari-hariku kala itu, menuliskan sejuta makna dalam hidup yang tadinya kosong.
Engkau memang mawar hitam yang begitu indah dengan sejuta pesona yang tak mungkin dilewatkan oleh pengelana manapun dimuka bumi. Aroma wangimu yang begitu semerbak membius indra dan menggelapkan hati. Keindahanmu memang nyata memang tak mungkin ditolah oleh pecinta yang masih berlogika. Warnamu tak terelakan lagi cantiknnya ketika masih nampak pada kelopak indahmu tetesan embun pagi yang menyejukan.
Begitu juga dengan aku yang langsung saja terperangkap dalam jerat cinta mematikan yang tau tebar di jalan-jalan hidupku. Kudekati dan kuhirup aromamu begitu dalam seakan membawa pada batas kebahagiaan yang tak mungkin digambarkan oleh pelukis manapun dan tak mungkin disenandungkan oleh panyair manapun di muka bumi. Engkau yang mengenalkanku pada hawa-hawa asmara dan mengajarkanku arti penghianatan yang tak terelakan sakitnya.
Setiap kali kuingat namamu, bayanganku selalu saja kembali ke masa saat dia cinta kemuadian meluluh lantahkan hati. Masa dimana kunikmati manis dan pahitnya cinta bersamanya. Pikiranku melayang ke saat-saat dimana kusentuh jemari lentiknya yang dingin membekukan hati dan mengurung perasaanku dalam penjara es abadi yang tak bias mencair oleh panasnya mentari. Desakan asmara pun semakin menjadi saat kubelai butuh indahnya yang semampai bagai bidadari pada cerita-cerita orang tua dulu. Ingin kuulangi masa itu dalam kehidaupan nyataku, tapi batinku menolak, berperang dengan logikaku.
Dekapan terakhir dan tanda abadi pada pipi indahmu yang meronaakan selalu mengingatkanku pada akhir cerita panjang cintaku yang tak akan pernah kutuliskan lagi dalam sekenario hidupku, setidaknya bukan dengan pemeran yang sama. Kata-kata perpisahan yang tak pernah terucapkan dan tetesan air matamuyang membeku biarlah menjadi saksi atas semua penghiatatan dan racun yang kau tuangkan pada minuman pagiku.
Dewi, begitulah namanya yang begitu indah namun tak seindah sikapnya yang telah melukaiku dengan duri mawarnya yang penuuh dengan racun-racun mematikan yang tak terdapat penawarnya di belahan dunia manapun. Cintanya telah membutakanku untuk pertama dan kedua kalinya, dan penghianatan manisnya membenamkanku ke dasar kesakitan yang begitu dalam.
Mawar hitam cantik yang berduri tajam akan selalu kukenang di sisa usiaku sebagai penghargaan atas segala derita yang ia berikan dan akan kuabadikan dalam pikiranku agar tetap kuingat ciuman pahitnya dan dekapannya yang kemudian mencerikku dengan apa yang ia namakan cinta.










Komentar