12 January 2009 ~ 0 Comments

Kandas di Semi Final

Bulan lalu di tahun lalu, (Kamis, 5 Des) dan (Jumat, 6 Des) adalah hari hari melelahkan dalam hidup. Bukan hanya fisik, tapi lebih ke hari dan pikiran. Dua hari ini aku dan dua orang temenku, Ian Azizah (baca:ijah) dan Silvia (baca: via) ikuta lomba debat bahasa Indonesia se Jabar dalam rangka PIM UPI yang diadain oleh BSO KIR REMA UPI.

Ok, gin ini kronologisnya…

Hari Kamis pertama kali kita ngelawan tim dari Universitas Purwakarta dengan mosi “Jumlah kendaraan bermotor harus dikurangi oleh pemerintah”, saat itu kita berada di pihak afirmatip yang harus mendukung mosi itu. Berbagai agrumen, fakta, data statistik , peraturan hukum dan perbandingan diungkapkan. Tapi sayangnya tim kita dianggap gagal oleh Juri (entah siaapa namanya). Kirta dikasih margin -4. Waduh, aneh lah..
Bukannya apa-apa, tapi jika melihat argumen dari tim lawam, tidak ada yang bernilai sangat kuat, bahkan kita masih mampu membantahnya. Tapi mungkin memang kita salah dan mereka lebih kuat. Alhasil, kita kalah di pertandingan pertama.

Pertandingan ke dua, kali ini tim kami melawan rekan sesama UPI, tepatnya dari Bahasa Arab UPI. Mosi yang diangkat adalah “Status dari pengidah HIV/ AIDS harus dipublikasikan”. Kali ini kita juga berada pada posisi afirmatip atau positip dimana harus mempertahankan dan mendukung mosi tersebut.
Kali ini kita mengambil strategi dengan mengerucutkan permasalahan dan mengunci lawan deanga definisi awal yang kita berikan sehingga lawan kurang memiliki ruang gerak dan sulit mencari lubang kelemahan dari argumen kita. Setelah sekitar 52 menit berdebat dan saling mempertahankan argumen, akhirnya juri memutuskan memberi margin 4 bagi tim kita dan 1 bagi tim lawan sehingga kita unggul pada sesi ini.

Posisi awal kita berada pada posisi ke 6 karena kekalahan oleh purwakarta, namun setelah sesi ke dua,posisi kita terdongkrak ke posisi ke dia dan cukup menginjak level aman andai pada debat sesi ketiga kita meraih kemenangan.

Pertandingan ketiga, kita disuguhi dengan mosi “Pemerintah tidak boleh membatasi usia perkawinan” dan lagi-lagi tim kami berada pada posisi positip. Strategi yang kami terapkan sama seperti perdebatan kedua, kita langsung memberikan batasa-batasan dan syarat yang harus dipenuhi untuk mendukug mosi tersebut. Lawan kita kali ini adalah tim dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Dan pada sesi ini kita kembali mendapatkan kemenangan dan posisi tim kita pun terdongkrak kembali ke posisi dua.

Dengan posisi itu maka tim kami akhirnya bisa melaju ke babak sei final dengan memperoleh 2 kali kemenangan, 3 magin dan 280 poin. Yang cukup senang adalah walaupun posisi kita kedua dan hanya mendapat 2 kali kemenangan, tetepi dari segi poin kami memiliki poin terbesar dengan 280 poin disusul universitas Silwangi (posisi pertama) dengan 270 poin dan 3 kali kemenangan.

Di semi final kami kembali melawan UNPUR dengan mosi “Ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri harus dihapuskan”. Singkatnya kami kalah di sesi ini dan tersingkir di semi final. Kesalahan terbesar kami adalah dalam penyerangan, kita tidak melakukan attact yang signifikan pada tim lawan. Attack yang mematikan baru keluar disaat terakhir. Namun kita juga cukup PD dengan beberapa kali mematikan argumen lawan dan membuat pembicara lawan “ngahuleng ” dan akhirnya kehabisan kata-kata. Salahnya lagi kita tidak menyerang argumen dan definisi dari pihak lawang yang terlalu berputar-putar, tidak jelas dan tidak memiliki landasan yang kuat, itulah kesalah terbesar yang kali lakukan sebagai tim oposan.

Tapi ini hanya sebatas perlombaan, dan dalam setiap persaingan pasti harus ada yang menang dan yang kalah. Kita cukup bangga dengan posisi sebagai semi finalis, terlebih kami tetap yakin kalau selurus argumen yang kami keluarkan dilandasi olah fakta, alasan, landasa dan data yang otentik dan tida membual atau bahkan mengada-ngada.

Kami bertekad, lain kali pasti akan lebih baik dari saat itu…

Dea R Iradewa

Click on pen to Use a Highlighter on this page
Tags:

11 January 2009 ~ 0 Comments

Kenangan Bersama DPO Kemakom

Semuanya berawal ketika presiden Kemakom (Zulkifli) mengamanatkan tugas kepadaku sebagai salahsatu staf DPO (Departemen Pengembangan Organisasi), tepatnya di Biro Advikasi. Bingung juga awalnya.. advokasi mau ngapain?? Apalagi emang sebelumnya ga pernah kepikiran buat nongkrong di advokasi (tadinya mikir mau ditempatin di kaderisasi)

Liat orang-orang penghuni DPO, awalnya emang serem juga.. Ko kayanya orangnnya serem-serem gini ya?! Tapi ternyata setelah waktu berjalan dan hari-hari kami lalui sebagai satu tim, satu keluarga, DPO semuanya terasa sangat ringan dan meninggalkan kesan yang tak mungkin bisa dilupakan.

Banyak hal yang aku dapatkan di sini, apalagi notabenenya DPO itu departemen tersibuk dan paling sentral di kemakom.. Secara dia yang ngurusin kaderisasi mahasiswa, mulai dari registrasi sampai lulus sebagai anggota Biasa (pelantikan/ plasa)

Cape, kesel, senang, dongkol, bahagia semuanya saling bercampur setiapkali kami menjalankan suatu kegiatan. Namun semua itu jelas terhapuskan dengan semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang kami jalin sebagai sesama anggota DPO. Dengan dimotori Mas Eka Risyana Pribadi sebagai menteri, dengan penuh semangat kami insyaAllah selalu siap menghadapi kemungkinan apapun yang terjadi di lapangan

Belum lengkap rasanya kalau belum ngenalin siapa “father of DPO” sang Menteri DPO. Ini di, orang yang lagi kita omongin, Eka Risayana Pribadi

Sebagi seorang menteri (kepala departemen), orang yang satu in patut diacungin jempol sebanyak-banyaknya. Dengan kalem, bijaksana, santai namun tetap berwibawa kang eka selalu memberikan motivsi kepada kami untuk tetap kompak dan smangat dalam melaksanakan semua program kerja. Dia jugalah orang yang mampu menyatukan anak-anak DPO yang memiliki karakter yang sangat heterogen. Sangatlah tepat pilihan seorang presiden Kemakom untuk memberikan amanah segai menteri DPO kepada orang yang satu ini. Bahkan aku beranggapan kalau tidak ada seorangpun di kemakom yang lebih pantas menduduki jabatan menteri DPO saat itu selain dia. Standing apploas buat Kang Eka

DPO, thank’s for All.. I’ll miss moments with you all

Dea R Iradewa

Click on pen to Use a Highlighter on this page